Wednesday, 25 April 2012

Bayern Munich Ke Final Lewat Adu Penalti


Franck Ribery; Pepe, Real Madrid, Bayern Munchen
Getty Images
Bayern Munich akhirnya merebut tiket final Liga Champions melalui adu penalti meski dikalahkan Real Madrid 2-1, sehingga agregat menjadi imbang 3-3, Rabu (24/4) malam.

Hanya butuh enam menit bagi tuan rumah untuk membuka keunggulan. Menerima sebuah umpan panjang, Angel Di Maria bermaksud memberikan umpan silang mendatar ke tengah kotak penalti tetapi bola mengenai tangan David Alaba. Penalti dengan tenang dieksekusi oleh Cristiano Ronaldo.

Keberhasilan Ronaldo itu menjadikan rekor tersendiri setelah selalu mampu menjaringkan gol dalam 25 eksekusi penalti terakhir.

Hanya semenit, Bayern memperoleh peluang menyamakan kedudukan. Alaba beraksi di sayap kiri dan memberikan umpan yang disongsong Arjen Robben. Sayangnya eksekusi sayap kidal itu tidak sempurna sehingga bola melayang ke atas mistar gawang Iker Casillas.

Menit 14, Santiago Bernabeu kian bersorak. Kesalahan penguasaan pemain Bayern menyebabkan bola direbut Sami Khedira dan bergulir ke arah Mesut Ozil. Dengan cepat Ozil memberi umpan kepada Ronaldo. Tannpa kawalan, Ronaldo mencetak gol kesepuluhnya di Liga Champions musim ini.

Pertandingan sepertinya selesai terlalu cepat, tetapi Pepe melakukan kesalahan fatal pada menit ke-27. Bek Portugal itu mendorong Mario Gomez yang berupaya menjangkau umpan silang Toni Kroos. Kartu kuning dan penalti! Robben berhasil menjalankan tugas sebagai eksekutor meski bola sempat ditepis Casillas.

Gol tersebut mendorong kepercayaan diri para pemain Bayern. Sebaliknya, barisan pertahanan Madrid kerap panik dalam menghadang serangan lawan. Mendekati akhir babak pertama, Bayern memperoleh peluang menyamakan kedudukan. Tendangan bebas Robben di depan kotak penalti berbelok menghantam Pepe, tapi beruntung Casillas secara refleks berhasil mencegah laju bola.

Bayern berani mengendalikan tempo pertandingan ketika babak kedua dimulai. Peluang langsung didapat ketika Gomez menyambut umpan silang Robben dengan sundulan, tetapi arah bola melebar. Madrid membalas ketika Karim Benzema melepaskan tembakan keras yang dapat dihalau Manuel Neuer.

Pertandingan menarik yang disajikan sebelum jeda tak terulang. Bayern mencoba bermain lebih sabar, sementara upaya Madrid dalam membangun serangan kerap digagalkan lini tengah Bayern yang digalang Luiz Gustavo.

Gomez memperoleh peluang emas memberikan tiket final kepada Bayern saat pertandingan tinggal tersisa lima menit. Lolos dari pertahanan Madrid, Robben memberikan umpan mendatar yang bisa dengan mudah diselesaikan oleh Gomez. Namun, Gomez memilih menahan bola sehingga Pepe dan Sergio Ramos sudah menutup ruang tembak.

Dua menit tambahan waktu tidak memberikan gol kemenangan sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke perpanjangan waktu.

Tempo pertandingan tak juga berubah sepanjang 15 menit pertama perpanjangan waktu. Untuk menggiatkan kreativitas tim, Thomas Muller dimasukkan menggantikan Franck Ribery. Namun, harapan Bayern tak terwujud. Malahan Gustavo dan Holger Badstuber memperoleh kartu kuning sehingga harus menjalani sanksi akumulatif.

Kelelahan menjalani perpanjangan waktu membuat kondisi fisik tak bisa dibohongi. Ronaldo yang cemerlang dengan dua gol di babak pertama tak lagi memperoleh kesempatan mengancam gawang Neuer. Sementara, Kroos mulai melakukan kesalahan saat menahan bola.

Madrid memainkan kartu terakhir pergantian pemain dengan memasukkan Gonzalo Higuain serta Esteban Granero. Sama seperti Kaka yang dimasukkan di akhir babak kedua waktu normal, para pemain pengganti Madrid tak banyak berkontribusi. Granero bahkan memperoleh kartu kuning karena berupaya mengelabui wasit Viktor Kassai dengan menjatuhkan diri di kotak penalti.

Skor tak jua berubah, satu tiket final Liga Champions harus ditentukan melalui lotere adu penalti.

Eksekusi pertama Madrid yang diambil Ronaldo malah gagal sehingga rekor 25 tendangan penalti yang berhasil pun terhenti. Kegugupan sepertinya sontak menyergap skuat Madrid sehingga eksekusi berikutnya yang diambil Kaka dapat dipatahkan juga oleh Neuer.

Casillas sempat menghidupkan peluang Madrid dengan menepis eksekusi Kroos dan Lahm. Namun, harapan Los Merengues sirna begitu tendangan Sergio Ramos melayang ke atas mistar. Pada eksekusi penentuan, Bastian Schweinsteiger berhasil menjalankan tugasnya.

Bayern akan tampil di Allianz Arena, kandang sendiri, di final Liga Champions menghadapi Chelsea, 19 Mei mendatang.





Source

Tuesday, 24 April 2012

Kesabaran dan Determinasi Chelsea Berbuah Kemenangan

 Pelatih Chelsea Roberto Di Matteo tersenyum lega setelah peluit panjang berbunyi.

Barcelona 2-2 Chelsea (Agg : 2-3)
(Busquet 35’, Iniesta 43’; Ramires 45’+1, Torres 90’+2)
    Ironis. Hanya dalam empat hari, Barcelona kehilangan dua gelar paling prestisius dalam semusim, La Liga dan Uefa Champion League (UCL) musim 2011-2012. Mimpi buruk pertama terjadi pada Sabtu, 21 April lalu ketika Real Madrid yang sebelum pertandingan memimpin klasemen dengan selisih empat poin dari Barcelona mampu membungkam mereka dengan skor 2-1 di kandang sendiri. Selisih tujuh poin membuat kubu Barcelona mengibarkan bendera putih mengingat La Liga hanya menyisakan empat pertandingan lagi. Meskipun tidak ada yang tidak mungkin dalam sepakbola. Tiga hari setelah itu, di tempat yang sama pula Messi dkk dipastikan tergusur dari arena UCL setelah ditahan imbang Chelsea dengan total agregat 3-2 untuk tim tamu.

    Ada satu hal yang patut diperhatikan dalam kegagalan Blaugrana meraih dua trofi musim ini. Biasanya, kekalahan Barca diiringi dengan diterapkannya permainan efektif oleh sang lawan mengingat kualitas pemain Barca sebagai tim dan individu sulit diimbangi. Tim seperti Madrid yang bertabur bintang saja, tidak cukup kuat meladeni permainan tiki-taka dan possesion football Barcelona sepanjang pertandingan. Akhirnya pelatih Madrid, Jose Mourinho, lebih memilih memperkuat pertahanan mereka dan menunggu Barca kehilangan bola untuk melancarkan serangan balik. Alhasil, CR7 berhasil menceploskan gol penentu kemenangan melalui serangan balik brilian di babak kedua. Kemenangan Madrid bisa jadi menginspirasi Roberto Di Matteo untuk menerapkan strategi serupa, kebetulan dia adalah orang Italia, yang tentunya sangat mengenal cattenaccio. Terbukti, dua gol dari Chelsea lahir dari serangan balik di injury time setiap babak, 45+1, dan 90+2.
Fernando Torres sukses melewati hadangan Victor Valdes.

    Strategi yang dipilih oleh Mou dan Di Matteo sering dikenal dengan sepakbola negatif, yakni lebih memperkuat pertahanan agar terhindar dari kebobolan. Apakah hal ini patut disalahkan? Menurut saya tidak. Permainan cantik yang diperagakan Barcelona sangatlah menghibur, siapa yang tak kagum dengan skill Messi, Xavi, maupun Iniesta yang sepertinya tak pernah lelah berlari mengalirkan bola. Pola penyerangan ke area penalti lawan yang mereka mainkan seakan gelombang tsunami yang entah bagaimana selalu berakhir dengan peluang-peluang emas dan getarnya gawang lawan. Namun itu semua menurut saya tetap hanyalah sebuah strategi bukan kunci kemenangan. Tim lawan yang memang tidak mampu meladeni permainan serupa tentu tak mempunyai pilihan banyak. Secara alamiah pun, pemain-pemain mereka akan mundur ke area pertahanan sambil melakukan tackling-tackling yang mungkin dapat merusak permainan dominasi tim terbaik. AC Milan, Inter Milan, Madrid, dan Chelsea sudah mempraktikannya saat melawan Barcelona dalam beberapa tahun terakhir, dan terbukti Barcelona tidak mampu mengembangkan pertandingan di sekitar kotak penalti mereka. Dari keempat tim itu hanya AC Milan yang belum berhasil menahan laju Barcelona di babak hidup mati. Kekurangan tim berkostum merah hitam ini menurut saya adalah terlalu keras, kurang disiplin, pola serangan monoton dan tidak maksimal melakukan serangan balik. 
Namun, tak dipungkiri mereka sanggup menahan gawang dari kebobolan saat berlaga di Italia. Maka, kesabaran, determinasi, kedisiplinan, dan kesuburan –disamping tentunya keberuntungan- para pemain Chelsea patut diapresiasi positif.

    Catatan statistik di situs guardian.co.uk membuktikan efektifitas permainan The Blues, selama 90 menit laga berjalan, Chelsea hanya menguasai bola sebanyak 18% saja, itupun dibarengi dengan enam kartu kuning (Mikel, Ramires, Ivanovic, Cech, Lampard, Meireles) dan satu kartu merah (John Terry). Mereka pun hanya membukukan 7 usaha membobol gawang (goal attempts), dan tiga tembakan mengarah gawang (shot on goal). Bandingkan dengan penguasaan 82% dengan 23 kali usaha membobol gawang dan satu kali penalti yang dilakukan Barcelona. Luar biasa.

    Selain, faktor catenaccio, keberuntungan juga tak berpihak pada kubu tuan rumah. Pemain terbaik dunia harus bertekuk lutut pada tiang dan mistar gawang hingga tendangan penaltinya pun tak berbuah gol. Ditengarai ini bukan hanya soal dewi fortuna, tetapi juga karena Messi tidak fit mental dan fisiknya. Secara fisik, dikabarkan dari berbagai media, Messi sempat didera kelelahan dan tidak mengikuti sesi latihan terakhir. Secara mental, Messi mengemban beban yang besar untuk menembus pertahanan Chelsea. Kelihaiannya mengolah bola untuk menembus pertahanan dan menceploskan bola tidak diragukan oleh seluruh insan sepakbola dan penikmat sepakbola indah. Tak ayal, kolega-koleganya pun tentu berharap lebih padanya.
Para Pemain Chelsea bersuka cita setelah lolos ke Final.

    Dibalik kegagalan Barcelona itu, saya menemukan beberapa hikmah. Pertama, sering orang berkata bahwa yang bermain cantik pantas menang, maka Chelsea dan tim-tim yang menjegal Barca dihujat dan dicemooh habis-habisan, sampai-sampai menganggap Chelsea memarkir pesawat di mulut gawang. Namun, mereka lupa, bukankah Tuhan juga punya andil menentukan kemenangan? Tuhanlah yang berkuasa menentukan pantas tidak sebuah tim menang, bukan kita.

    Kedua, tujuan akhir adalah segalanya. Andaikata sepakbola negatif adalah haram atau dikenai sanksi, tentulah tidak akan ada tim yang menggunakannya untuk meraih hasil maksimal. Faktanya, sepakbola negatif bukanlah aib, dan hanya bagian dari strategi. Semua boleh menerapkannya. Kemenangan, trofi, dan bonuslah yang menjadi tujuan akhir sepakbola di era modern. Anda pun tahu, kunci kemenangan dalam olahraga ini bukan hanya tentang mencetak gol, tetapi juga memastikan gawang sendiri tidak kebobolan. 
Chelsea pun tidak mungkin lolos apabila dia sendiri juga tak bisa mencetak gol ke gawang Barcelona.

    Ketiga, kemenangan demi kemenangan terkadang begitu melenakan. Segudang prestasi yang dimiliki oleh Pep dan para anak asuhnya membuat mereka melupakan pahitnya kegagalan. Maka, sering ketika keadaan terjepit di partai penting, beberapa pemain Barca –seperti Busquet, Alves, dll- melakukan aksi diving atau sandiwara yang membuat wasit menjadi pihak tergalau saat itu. Akhirnya sang pengadil pun mengeluarkan keputusan-keputusan kontroversial yang sering diperdebatkan. Bagi saya, aksi mereka memang sudah wajar dalam sepakbola, tetapi justru menjadikan kemenangan The Catalans dianggap batal oleh lawan-lawannya. 
Maka, wajar saja bila fans dari tim-tim yang hancur karena kontroversi itu bersatu mendukung siapa saja yang melawan Barcelona dan berkata “Siapa saja boleh juara, asal jangan Barca!”. Beruntungnya, wasit asal Turki, Cuneyt Cakir, mampu memimpin pertandingan dini hari tadi dengan baik.

    Dan pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa proses itu tidaklah penting pada babak knock-out sperti ini, yang terpenting hasil akhir.

Possession Football VS Direct Football


    Seandainya anda menjadi pelatih sepakbola, mana yang anda pilih? Menang tanpa menguasai permainan atau kalah tetapi menguasai permainan? Adakah anda memilih menang di lapangan atau menang di papan skor?
Kedua pertanyaan di atas adalah sebuah pergumulan berat seorang pelatih sepakbola profesional. Menang tanpa menguasai permainan atau tampil indah bukanlah sebuah pilihan yang mudah. Mengapa? Karena sang pelatih akan mendapat kecaman dari suporter bahkan pemilik klub. Allegri, pelatih AC Milan dan juga Mourinho pelatih Madrid mengalami hal tersebut.
    
    Lalu apakah main indah dan menguasai permainan (bola) merupakan pilihan yang terbaik? Jika kita melihat faktanya, ternyata tidak. Sebagus apapun Barcelona bermain dan berhasil menguasai permainan tapi tanpa gelar dan kemenangan maka semua itu hanya hiburan. Pertandingan sepakbola bukan lagi hiburan, layaknya sirkus, tetapi sudah menjadi sebuah industri.

    Malam ini (waktu Barcelona) kita akan kembali disajikan dua cara bermain yang berbeda. Barcelona yang mengandalkan “possesion football” melawan Chelsea yang mengandalkan “direct football”. Sederhananya permainan menguasai bola dan permainan tanpa menguasai bola. Barcelona akan mengoper bola dari kaki ke kaki sampai ke depan gawang, sedangkan Chelsea bermain dengan bola langsung dan serangan balik.

    Pada leg 1, Chelsea membuktikan ketangguhan strateginya. Mikel, Lampard, dan Meireles berhasil meredam lini tengah Barcelona dan mengurangi suplai bola ke depan. Sedangkan dua jangkar kembar, Cahil dan Terry berhasil menjadi tembok penghalang. Meski tetap saja pertahanan tersebut bisa ditembus, namun Barcelona pada akhirnya harus berhadapan dengan Cech, salah satu kiper terbaik di dunia.

    Leg 2 malam nanti juga akan menampilkan permainan yang sama. Xavi pun sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi.
“Saya membayangkan Chelsea akan menumpuk pemain di lapangan (pertahanan) sendiri jadi kami akan berusaha mencari ruang untuk ‘membuka kalengnya’,” ucap Xavi beranalogi.

    Sementara itu, Pique berpendapat bahwa Barca bisa menang andai bermain seperti biasanya, memenangi ball possession dalam jumlah yang tinggi.
“Kami harus menjadi diri kami sendiri. Kami harus mengontrol penguasaan bola selama 90 menit dan pada akhirnya kami akan mendapatkan kesempatan,” ujarnya di situs resmi UEFA.
Partai ini akan menghadirkan permainan menarik, penuh ketegangan, namun membosankan. Karena anda tidak akan melihat banyak gol tercipta pada partai tersebut. Semoga menariknya partai ini tidak dinodai dengan kepemimpinan wasit yang berat sebelah.
Selamat menyaksikan.