Kebangkitan Manchester City di EPL Musim Ini.
Manchester pun membiru. Dan dunia pun mendapatkan idola baru: Manchester City.
Seorang Diego Maradona kini mendukung Manchester City. Walaupun alasan utamanya adalah sang menantu yang kini menjadi andalan di lini depan klub EPL, rasanya nyaris tidak mungkin melihatnya berjingkrakan seperti kemarin jika Sergio Aguero masih membela Atletico Madrid.
Sejak awal musim, City memang sudah disebut-sebut sebagai calon kuat juara musim ini. Menyaingi sang juara bertahan dan rival sekota mereka, Manchester United. Dengan deretan pemain-pemain super semacam Aguero, Yaya Toure, Samir Nasri, David Silva, Carlos Tevez, Mario Balotelli dan masih banyak lagi lainnya, City jelas secara instan menjadi klub besar di EPL.
Pengaruh Roberto Mancini sebagai seorang manajer juga sangat besar. Ia mampu menampung ego begitu banyak bintang dan menjadikan City sebagai suatu kesatuan yang solid. Meski tidak mulus -perang menghadapi Tevez dan perselisihan rutin dengan Balotelli menjadi beberapa contoh- ia mampu menjaga pesawat besarnya tetap bergerak ke arah yang benar.
Namun di titik terendah itu, mereka mampu menunjukkan bahwa tim ini mampu bangkit. Dan tidak akan menyerah selama masih ada kesempatan. United -secara tidak biasa- mulai terpeleset di pertandingan pertandingan terakhir. Keunggulan semakin menipis, dan City pun dengan ketenangan yang luar biasa berhasil memanfaatkan situasi.
Hasilnya seperti kita ketahui bersama, City sukses memenangi pertandingan dengan skor 1-0. Sang kapten, Vincent Kompany, menjadi pahlawan dalam pertandingan yang seharusnya bisa mereka menangi dengan skor yang lebih besar lagi.
Selain sebuah komedi kecil dari Samir Nasri di akhir pertandingan, City tidak membuat kesalahan apapun di duel penentu kemarin. Mereka tidak mengubah gaya bermain, dan menegaskan pada semua yang menyaksikan bahwa tim ini datang untuk meraih kemenangan. Dan terus melaju untuk meraih gelar juara.
Banyak yang akan mendebatkan posisi City saat ini adalah "hadiah" dari United yang membuang poin berharga mereka. Namun ketenangan City yang memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun harus tetap diberi pujian. Dengan level tekanan di akhir musim yang bisa membuat kepala siapapun meledak, apa yang dilakukan tim yang tidak terbiasa dengan atmosfir persaingan gelar juara ini sangatlah hebat.
Meski begitu, ini adalah kesempatan terbesar City untuk meraih juara setelah menanti selama puluhan tahun. Sebuah kebodohan besar jika gagal menaklukkan kedua tim yang secara kasat mata berada di bawah mereka tersebut. Dan dengan dana begitu besar yang sudah dihabiskan oleh Sheikh Mansour di awal musim, rasanya mereka layak untuk mendapatkan satu gelar kali ini. Sebuah gelar paling bergengsi, dengan mengalahkan rival terbesar mereka sepanjang masa.
Etihad akan melakukan pesta yang sama seperti kemarin malam saat mereka menaklukkan United pada tanggal 13 Mei nanti. Karena di saat itu, Manchester City akan menjuarai EPL musim ini.
Who's the noisy neighbor now, eh?
No comments:
Post a Comment