Barcelona 2-2 Chelsea (Agg : 2-3)
(Busquet 35’, Iniesta 43’; Ramires 45’+1, Torres 90’+2)
Ironis. Hanya dalam empat hari, Barcelona
kehilangan dua gelar paling prestisius dalam semusim, La Liga dan Uefa
Champion League (UCL) musim 2011-2012. Mimpi buruk pertama terjadi pada
Sabtu, 21 April lalu ketika Real Madrid yang sebelum
pertandingan memimpin klasemen dengan selisih empat poin dari Barcelona
mampu membungkam mereka dengan skor 2-1 di kandang sendiri. Selisih
tujuh poin membuat kubu Barcelona mengibarkan bendera putih mengingat La
Liga hanya menyisakan empat pertandingan lagi. Meskipun tidak ada yang tidak mungkin dalam sepakbola. Tiga hari setelah itu,
di tempat yang sama pula Messi dkk dipastikan tergusur dari arena UCL
setelah ditahan imbang Chelsea dengan total agregat 3-2 untuk tim tamu.
Ada satu hal yang patut diperhatikan dalam
kegagalan Blaugrana meraih dua trofi musim ini. Biasanya, kekalahan
Barca diiringi dengan diterapkannya permainan efektif oleh sang lawan
mengingat kualitas pemain Barca sebagai tim dan individu sulit
diimbangi. Tim seperti Madrid yang bertabur bintang saja, tidak cukup
kuat meladeni permainan tiki-taka dan possesion football
Barcelona sepanjang pertandingan. Akhirnya pelatih Madrid, Jose
Mourinho, lebih memilih memperkuat pertahanan mereka dan menunggu Barca
kehilangan bola untuk melancarkan serangan balik. Alhasil, CR7 berhasil
menceploskan gol penentu kemenangan melalui serangan balik brilian di
babak kedua. Kemenangan Madrid bisa jadi menginspirasi Roberto Di Matteo untuk menerapkan strategi serupa, kebetulan dia adalah
orang Italia, yang tentunya sangat mengenal cattenaccio. Terbukti, dua gol dari Chelsea lahir dari serangan balik di injury time setiap babak, 45+1, dan 90+2.
Strategi yang dipilih oleh Mou dan Di Matteo sering
dikenal dengan sepakbola negatif, yakni lebih memperkuat pertahanan
agar terhindar dari kebobolan. Apakah hal ini patut disalahkan? Menurut
saya tidak. Permainan cantik yang diperagakan Barcelona sangatlah
menghibur, siapa yang tak kagum dengan skill Messi, Xavi, maupun Iniesta
yang sepertinya tak pernah lelah berlari mengalirkan bola. Pola
penyerangan ke area penalti lawan yang mereka mainkan seakan gelombang
tsunami yang entah bagaimana selalu berakhir dengan peluang-peluang emas
dan getarnya gawang lawan. Namun itu semua menurut saya tetap hanyalah
sebuah strategi bukan kunci kemenangan. Tim lawan yang memang tidak
mampu meladeni permainan serupa tentu tak mempunyai pilihan banyak.
Secara alamiah pun, pemain-pemain mereka akan mundur ke area pertahanan
sambil melakukan tackling-tackling yang mungkin dapat merusak
permainan dominasi tim terbaik. AC Milan, Inter Milan, Madrid, dan
Chelsea sudah mempraktikannya saat melawan Barcelona dalam beberapa
tahun terakhir, dan terbukti Barcelona tidak mampu mengembangkan
pertandingan di sekitar kotak penalti mereka. Dari keempat tim itu hanya
AC Milan yang belum berhasil menahan laju Barcelona di babak hidup
mati. Kekurangan tim berkostum merah hitam ini menurut saya adalah
terlalu keras, kurang disiplin, pola serangan monoton dan tidak maksimal
melakukan serangan balik.
Namun, tak dipungkiri mereka sanggup menahan
gawang dari kebobolan saat berlaga di Italia. Maka, kesabaran,
determinasi, kedisiplinan, dan kesuburan –disamping tentunya
keberuntungan- para pemain Chelsea patut diapresiasi positif.
Catatan statistik di situs guardian.co.uk membuktikan efektifitas permainan The Blues,
selama 90 menit laga berjalan, Chelsea hanya menguasai bola sebanyak
18% saja, itupun dibarengi dengan enam kartu kuning (Mikel, Ramires,
Ivanovic, Cech, Lampard, Meireles) dan satu kartu merah (John Terry).
Mereka pun hanya membukukan 7 usaha membobol gawang (goal attempts), dan tiga tembakan mengarah gawang (shot on goal).
Bandingkan dengan penguasaan 82% dengan 23 kali usaha membobol gawang
dan satu kali penalti yang dilakukan Barcelona. Luar biasa.
Selain, faktor catenaccio, keberuntungan
juga tak berpihak pada kubu tuan rumah. Pemain terbaik dunia harus
bertekuk lutut pada tiang dan mistar gawang hingga tendangan penaltinya
pun tak berbuah gol. Ditengarai ini bukan hanya soal dewi fortuna,
tetapi juga karena Messi tidak fit mental dan fisiknya. Secara fisik,
dikabarkan dari berbagai media, Messi sempat didera kelelahan dan tidak
mengikuti sesi latihan terakhir. Secara mental, Messi mengemban beban
yang besar untuk menembus pertahanan Chelsea. Kelihaiannya mengolah bola
untuk menembus pertahanan dan menceploskan bola tidak diragukan oleh
seluruh insan sepakbola dan penikmat sepakbola indah. Tak ayal,
kolega-koleganya pun tentu berharap lebih padanya.
Dibalik kegagalan Barcelona itu, saya menemukan
beberapa hikmah. Pertama, sering orang berkata bahwa yang bermain cantik
pantas menang, maka Chelsea dan tim-tim yang menjegal Barca dihujat dan
dicemooh habis-habisan, sampai-sampai menganggap Chelsea memarkir
pesawat di mulut gawang. Namun, mereka lupa, bukankah Tuhan juga punya
andil menentukan kemenangan? Tuhanlah yang berkuasa menentukan pantas
tidak sebuah tim menang, bukan kita.
Kedua, tujuan akhir adalah segalanya. Andaikata
sepakbola negatif adalah haram atau dikenai sanksi, tentulah tidak akan
ada tim yang menggunakannya untuk meraih hasil maksimal. Faktanya,
sepakbola negatif bukanlah aib, dan hanya bagian dari strategi. Semua
boleh menerapkannya. Kemenangan, trofi, dan bonuslah yang menjadi tujuan
akhir sepakbola di era modern. Anda pun tahu, kunci kemenangan dalam
olahraga ini bukan hanya tentang mencetak gol, tetapi juga memastikan
gawang sendiri tidak kebobolan.
Chelsea pun tidak mungkin lolos apabila
dia sendiri juga tak bisa mencetak gol ke gawang Barcelona.
Ketiga, kemenangan demi kemenangan terkadang begitu
melenakan. Segudang prestasi yang dimiliki oleh Pep dan para anak
asuhnya membuat mereka melupakan pahitnya kegagalan. Maka, sering ketika
keadaan terjepit di partai penting, beberapa pemain Barca –seperti
Busquet, Alves, dll- melakukan aksi diving atau sandiwara yang
membuat wasit menjadi pihak tergalau saat itu. Akhirnya sang pengadil
pun mengeluarkan keputusan-keputusan kontroversial yang sering
diperdebatkan. Bagi saya, aksi mereka memang sudah wajar dalam
sepakbola, tetapi justru menjadikan kemenangan The Catalans
dianggap batal oleh lawan-lawannya.
Maka, wajar saja bila fans dari
tim-tim yang hancur karena kontroversi itu bersatu mendukung siapa saja
yang melawan Barcelona dan berkata “Siapa saja boleh juara, asal jangan
Barca!”. Beruntungnya, wasit asal Turki, Cuneyt Cakir, mampu memimpin
pertandingan dini hari tadi dengan baik.
Dan pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa proses itu tidaklah penting pada babak knock-out sperti ini, yang terpenting hasil akhir.
No comments:
Post a Comment