Tuesday, 24 April 2012

Kesabaran dan Determinasi Chelsea Berbuah Kemenangan

 Pelatih Chelsea Roberto Di Matteo tersenyum lega setelah peluit panjang berbunyi.

Barcelona 2-2 Chelsea (Agg : 2-3)
(Busquet 35’, Iniesta 43’; Ramires 45’+1, Torres 90’+2)
    Ironis. Hanya dalam empat hari, Barcelona kehilangan dua gelar paling prestisius dalam semusim, La Liga dan Uefa Champion League (UCL) musim 2011-2012. Mimpi buruk pertama terjadi pada Sabtu, 21 April lalu ketika Real Madrid yang sebelum pertandingan memimpin klasemen dengan selisih empat poin dari Barcelona mampu membungkam mereka dengan skor 2-1 di kandang sendiri. Selisih tujuh poin membuat kubu Barcelona mengibarkan bendera putih mengingat La Liga hanya menyisakan empat pertandingan lagi. Meskipun tidak ada yang tidak mungkin dalam sepakbola. Tiga hari setelah itu, di tempat yang sama pula Messi dkk dipastikan tergusur dari arena UCL setelah ditahan imbang Chelsea dengan total agregat 3-2 untuk tim tamu.

    Ada satu hal yang patut diperhatikan dalam kegagalan Blaugrana meraih dua trofi musim ini. Biasanya, kekalahan Barca diiringi dengan diterapkannya permainan efektif oleh sang lawan mengingat kualitas pemain Barca sebagai tim dan individu sulit diimbangi. Tim seperti Madrid yang bertabur bintang saja, tidak cukup kuat meladeni permainan tiki-taka dan possesion football Barcelona sepanjang pertandingan. Akhirnya pelatih Madrid, Jose Mourinho, lebih memilih memperkuat pertahanan mereka dan menunggu Barca kehilangan bola untuk melancarkan serangan balik. Alhasil, CR7 berhasil menceploskan gol penentu kemenangan melalui serangan balik brilian di babak kedua. Kemenangan Madrid bisa jadi menginspirasi Roberto Di Matteo untuk menerapkan strategi serupa, kebetulan dia adalah orang Italia, yang tentunya sangat mengenal cattenaccio. Terbukti, dua gol dari Chelsea lahir dari serangan balik di injury time setiap babak, 45+1, dan 90+2.
Fernando Torres sukses melewati hadangan Victor Valdes.

    Strategi yang dipilih oleh Mou dan Di Matteo sering dikenal dengan sepakbola negatif, yakni lebih memperkuat pertahanan agar terhindar dari kebobolan. Apakah hal ini patut disalahkan? Menurut saya tidak. Permainan cantik yang diperagakan Barcelona sangatlah menghibur, siapa yang tak kagum dengan skill Messi, Xavi, maupun Iniesta yang sepertinya tak pernah lelah berlari mengalirkan bola. Pola penyerangan ke area penalti lawan yang mereka mainkan seakan gelombang tsunami yang entah bagaimana selalu berakhir dengan peluang-peluang emas dan getarnya gawang lawan. Namun itu semua menurut saya tetap hanyalah sebuah strategi bukan kunci kemenangan. Tim lawan yang memang tidak mampu meladeni permainan serupa tentu tak mempunyai pilihan banyak. Secara alamiah pun, pemain-pemain mereka akan mundur ke area pertahanan sambil melakukan tackling-tackling yang mungkin dapat merusak permainan dominasi tim terbaik. AC Milan, Inter Milan, Madrid, dan Chelsea sudah mempraktikannya saat melawan Barcelona dalam beberapa tahun terakhir, dan terbukti Barcelona tidak mampu mengembangkan pertandingan di sekitar kotak penalti mereka. Dari keempat tim itu hanya AC Milan yang belum berhasil menahan laju Barcelona di babak hidup mati. Kekurangan tim berkostum merah hitam ini menurut saya adalah terlalu keras, kurang disiplin, pola serangan monoton dan tidak maksimal melakukan serangan balik. 
Namun, tak dipungkiri mereka sanggup menahan gawang dari kebobolan saat berlaga di Italia. Maka, kesabaran, determinasi, kedisiplinan, dan kesuburan –disamping tentunya keberuntungan- para pemain Chelsea patut diapresiasi positif.

    Catatan statistik di situs guardian.co.uk membuktikan efektifitas permainan The Blues, selama 90 menit laga berjalan, Chelsea hanya menguasai bola sebanyak 18% saja, itupun dibarengi dengan enam kartu kuning (Mikel, Ramires, Ivanovic, Cech, Lampard, Meireles) dan satu kartu merah (John Terry). Mereka pun hanya membukukan 7 usaha membobol gawang (goal attempts), dan tiga tembakan mengarah gawang (shot on goal). Bandingkan dengan penguasaan 82% dengan 23 kali usaha membobol gawang dan satu kali penalti yang dilakukan Barcelona. Luar biasa.

    Selain, faktor catenaccio, keberuntungan juga tak berpihak pada kubu tuan rumah. Pemain terbaik dunia harus bertekuk lutut pada tiang dan mistar gawang hingga tendangan penaltinya pun tak berbuah gol. Ditengarai ini bukan hanya soal dewi fortuna, tetapi juga karena Messi tidak fit mental dan fisiknya. Secara fisik, dikabarkan dari berbagai media, Messi sempat didera kelelahan dan tidak mengikuti sesi latihan terakhir. Secara mental, Messi mengemban beban yang besar untuk menembus pertahanan Chelsea. Kelihaiannya mengolah bola untuk menembus pertahanan dan menceploskan bola tidak diragukan oleh seluruh insan sepakbola dan penikmat sepakbola indah. Tak ayal, kolega-koleganya pun tentu berharap lebih padanya.
Para Pemain Chelsea bersuka cita setelah lolos ke Final.

    Dibalik kegagalan Barcelona itu, saya menemukan beberapa hikmah. Pertama, sering orang berkata bahwa yang bermain cantik pantas menang, maka Chelsea dan tim-tim yang menjegal Barca dihujat dan dicemooh habis-habisan, sampai-sampai menganggap Chelsea memarkir pesawat di mulut gawang. Namun, mereka lupa, bukankah Tuhan juga punya andil menentukan kemenangan? Tuhanlah yang berkuasa menentukan pantas tidak sebuah tim menang, bukan kita.

    Kedua, tujuan akhir adalah segalanya. Andaikata sepakbola negatif adalah haram atau dikenai sanksi, tentulah tidak akan ada tim yang menggunakannya untuk meraih hasil maksimal. Faktanya, sepakbola negatif bukanlah aib, dan hanya bagian dari strategi. Semua boleh menerapkannya. Kemenangan, trofi, dan bonuslah yang menjadi tujuan akhir sepakbola di era modern. Anda pun tahu, kunci kemenangan dalam olahraga ini bukan hanya tentang mencetak gol, tetapi juga memastikan gawang sendiri tidak kebobolan. 
Chelsea pun tidak mungkin lolos apabila dia sendiri juga tak bisa mencetak gol ke gawang Barcelona.

    Ketiga, kemenangan demi kemenangan terkadang begitu melenakan. Segudang prestasi yang dimiliki oleh Pep dan para anak asuhnya membuat mereka melupakan pahitnya kegagalan. Maka, sering ketika keadaan terjepit di partai penting, beberapa pemain Barca –seperti Busquet, Alves, dll- melakukan aksi diving atau sandiwara yang membuat wasit menjadi pihak tergalau saat itu. Akhirnya sang pengadil pun mengeluarkan keputusan-keputusan kontroversial yang sering diperdebatkan. Bagi saya, aksi mereka memang sudah wajar dalam sepakbola, tetapi justru menjadikan kemenangan The Catalans dianggap batal oleh lawan-lawannya. 
Maka, wajar saja bila fans dari tim-tim yang hancur karena kontroversi itu bersatu mendukung siapa saja yang melawan Barcelona dan berkata “Siapa saja boleh juara, asal jangan Barca!”. Beruntungnya, wasit asal Turki, Cuneyt Cakir, mampu memimpin pertandingan dini hari tadi dengan baik.

    Dan pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa proses itu tidaklah penting pada babak knock-out sperti ini, yang terpenting hasil akhir.

No comments:

Post a Comment